//JUJURLY//

Membaca KULIPAYAH, tentang kata itu, apakah terdengar tidak enak. Dan juga bertendensi ga enak juga?

Apa rasa yang ada, secara spontan, saat mengeja ku-li-pa-yah-wordpress.com??

Prok prooooook, tolong dibantu menjawab pertanyaan ini ya. Dengan senang hati diterima, apapun persepsi yang ada tentang nama blog ini.


Menua Dengan Indah

“Ndak usah pulang, ora papa.” Kata Kanjeng Byong saat menelfon pagi kemarin-kemarin.

“Iya.” Sebagai anak ya mencoba manut saja. Sebenarnya alasannya adalah karena cape, trus nanti di rumah tepar, trus nanti ngiuk ngiuk punggungnya pegel. Padahal sebenarnya tidak semengeluh begitu.

Kanjeng Byong ngasih tahu kalau nenek Arso meninggal. Kagetkah? Tidak. Bahkan setelah berucap innalillah wa inna ilaihi raaji’un, ada kelegaan. Terimakasih, karena Allah sudah memutuskannya. Melihat sosok yang sudah sepuh hanya bisa terbaring di tempat tidur, bukan hal yang menyenangkan. Terbaring dan terbaring sepanjang hari. Bayi panjang yang sudah keriput. Tidak tega duduk di sampingnya, terdiam. Kalaupun bersuara, itu hanya sekedar untuk mendukung iya atau emoh, menggeleng atau menggangguk kecil, bila ditawari minum, makan.

Yang sempat saya lakukan kemarin adalah memotong kuku tangan kirinya. Sementara ketika giliran kuku tangan kanan, katanya sakit. Susah digerakkan. Auch, “sekedar” memindahkan tangan, serasa drita besar. “Ya Allah, bagaimana ini. Nikmat-Mu dikemanakan?” Sejujurnya saya tidak menyukai penderitaan. *Normal Jeng!!*

Nenek Arso dipanggil uwak oleh para keponakannya. Dan Kanjeng Byong salah satu keponannya. Keponakan pertama malah. Dan dulu saat masih kecil, saya ikut2an memanggil Wa Arso juga. Padahal seharusnya memanggil Nenek.

Saat menengok nenek Arso *tentu saja pas saya pulang akhir februari kemarin, dan nenek Arso masih ada*, malah terpikir Seperti Apa Kelak Masa Tua Yang Saya Miliki. Langsung membuat permohonan, “Ya Allah, tolong ya, saya pengin tua dengan indah. Sehat. Masih bisa sholat dengan baik. Ngumpul dengan teman. Dikelilingi anak-cucu  yang penuh sayang dan hormat.”

“Amin, ya rabb al-‘alamin.”

Tetap bertahan sehat. Look inside. Secara pendukung kesehatan bodi, apa kabar makanan yang selama ini masuk. Eh. Ya normal, pasti nasi. Selain nasi. Ya, makan yang lain juga. Halal. Tayib?? Eh??!! He hehe he.

Setelah sholat subuh, masih menyempatkan diri lari  pagi? Maaf, seringnya lupa……………….

 


Dan Ditutuplah Facebook

Booooom__________ facebook akan ditutup! Kalau saya sendiri akan bersorak senang wilujeng, silakan saja, monggo monggo. Tutuplah. Dan atau berbayarlah. *Hehe he he, maap maap, so sorry. Karena, yah memang ai don ker apa adanya. saat ini*

Meski, lagi-lagi, boooooooooomm, HOAX! Sensasi yang menyenangkan. Mungkin juga ada yang merasa tergemparkan dan meneriakkan OH NO!! *”Yoko, so where are you. John miss you.”*

Ada masalah kalau fb ditutup? Maka kalau sampai muncul tanya yang seperti ini, ingatlah sebuah baris Mati Satu Tumbuh Seribu. Bahkan kalaupun akan benar-benar terjadi fb digitukan, maka berjayalah twiter. Bahkan friendster, yang tanpa disengajakan diberitakan akan ditutup, tanpa ditutuppun sudah banyak pemilik akun yg mengabaikannya. Tidak membuka-bukanya lagi. Dan beralih ke fb, sang generasi baru yang lebih chick. Atau, sekarang tumbuh kicauan twiter. Atau jejaring sosial lainnya. Uhu hu hu hu.

Bisakah kita kembali hidup normal di dunia nyata? DAN tanpa merisaukan dipenjaranya fb. Risau yang berlebihan. Jangan-jangan akan ada reportase “Pasien RS bertambah karena depresi akibat pemberitaan ditutupnya facebook.”


No Job No Dong

Anggap saja pekerjaan saya sudah selesai. Tapi memang sudah selesai secara sesungguhnya kok. Bukan selesai yang dibuat2.

Apa yang harus dilakukan? What should I do?, demikian pertanyaan yang muncul dalam monolog. Kadang, betapa kriminilnya kekosongan aktivitas itu. Bingung malah. Mau ngapain? Benar-benar tipe kuli, orang suruhan, yang sejati. Thruly Employee. Hidup Kuli!!

“Ahaaaaa”, terpikirlah untuk menulis [mengetik]. Mengeklik wordpress. SECARA setelah dicek dan dicermati, ternyata blog ini pingsan cukup lama. 2 minggu, kurang lebihnya. Terakhir mengunggah tulisan 19 Oktober 2010, Selasa yang sudah terlewat. Kasihan kasihan kasihan kasihan. Inilah saatnya membangkitkannya. Selagi belum ada yang HARUS dikerjakan lagi.

Aduh, mau nulis apa? Haha, bingung juga ternyata. Mendadak gagap gini, grogi. Cie cieeeeee. Sudah mah merasa kesulitan mendapatkan ide, tema, bahan, MUNCULAH godaan yang cukup berat. Facebook! Blogwalking!

Agak gak adil juga siy kalau menyalahkan fb dkk. Mengkambinghitamkannya. Kasihan fb jadi tumbal. Lebih-lebih memang jam sekitar ashar merupakan waktu beredar di jagad maya. Lihat saja siklus fb: pagi sekitar jam 8-9, Istirahat jam 12-13, jam ashar atau menit-menit menjelang pulang. Dimungkinkan pemilik akun fb sebagian besar adalah para pekerja, a-k-a kuli. Ntah itu yang masih staf, atau juga yang sudah jadi menejer. MAY BE!

Atau mengundurkan diri saja? DEACTIV? Yah, sama saja. Mundur dari fb tapi bikin akun di twiter, koprol, atau semacamnya. Halah, gak sekonyol itu kali. MEN BEHIND THE GUN. Bukan Manusia Budak Fb.

Awalnya siy gak pengin menjawab pertanyaan Fb “Apa Yang Sedang Kamu Pikirkan?”. Dan memang gak terpancing untuk menganyari status. Hanya tertarik untuk mengomentari apa yang sudah ditulis teman di fbnya. Halah, pada bae!. Ternyata, membuka home itu cukup beresiko. Menggoda iman. Terus berlanjut iseng memperhatikan recent activitynya si teman. Belum lagi kalau mereka baru mengadakan acara, atau jalan2 yang fotonya kadang bikin mupeng. Ouh, derita fesbuker!! Hidupnya tergadaikan.

About blog walking, setali tiga tali [?]. Seolah-olah sudah mendapatkan wangsit, “asyik asyik, nemu tema!”, dilanjutkan menuliskannya. Terus agak tersendat, karena membutuhkan referensi. Biar isi tulisannya berisi dan enak. Dimulailah dengan memasrahkan tema tersebut pada google. Dan google merespon dengan sangat baik. Banjaran site yang mengisi halaman-halamannya google. Klik, dan klilk lagi. Klik, klik…. klik, klik. Beralih dari hasil klikan yang satu ke halaman-halaman web berikutnya. Belum lagi kalau menemukan postingan yang masuk di hati, “komen ahhhhh”.

Akibatnya: LUPA! Maksud hati hendak membuat sebuah tulisan, malah tersesat dan makin nyasar saja dengan membaca beberapa notes, status, komentar-komentar, ataupun isi blog orang lain.
Yihay, baghhoozzzzzzz.
Kebuntuan mencari ide tulisan sembuh total!!

Arrrrrggggghhhhhhhhhhhh……………… Plissss dehhh!!!!

APA JADINYA kalau banyak orang yang bertingkah demikian??

Andaikan selain fb dkk, jalan-jalan, chatting di ym, gtalk, atau memakai fasilitas lainnya, juga dimasukkan sebagai pelaku kejahatan??
Gak masalah!!

Ada penjahat, pelaku kriminal.
Ada pahlawan, sosok yang mampu mengatasi kuasa dan kelakuan si penjahat.
Ada korban, sosok yang terintimidasi oleh tindakan dan kuasa penjahat. Merasa lemah untuk melawan.


Ouwh, Kenapa Bercanda?!

Bukan maksud hati untuk melakukan pekerjaan ber-can-da. Sama sekali tidak diniti dengan sungguh-sungguh. Tapi, ya, ada saatnya ber-can-da & tidak serius itu muncul. Bahkan di tengah2 keseriusan. Karena, kadang merasa diintimidasi oleh ikilim serius yang senyap dan sama sekali gak mutu!!. Kalau saja serius yang berasap senyap itu berwujud cicak, segera akan huusshh hush hushhh zzahhhh get out! Atau ambil semacam tongkat untuk menakut2i si cicak perwujudan serius itu. Sampai dia lari meninggalkan ekornya yang break dance itu. Puas!!

Dan ber-can-da itu terjadi setelah membaca tulisan, atau semacam puisi kali ya. Tentang Matahari. Matahari yang dianggapkan sebagai Pemberi Tanpa Pengin Dikasih Lagi. Potongannya seperti ini:

“Anakku, lihatlah matahari itu
Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya
Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya
Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya
Ia tetap memberikan pencahayaan
Bayangkan, apa yang akan dialami bumi
Bila matahari tidak mau bercahaya”

Hal yang serius. Begitukan?

Efek daripada ketidak-kuatan pada hal yang serius-senyap-terhantui, menanggapi puisi Matahari itu dengan Matahari tandingan. Matahari Depstore. Matahari yang ini juga sering berbagi. Dengan melabeli DISKON di beberapa produk sepatu. Lanjutkan membaca


Luasnya Bumi Allah

“Naik haji, bila mampu.” Diusahakan tentunya. Dan harus diniatkan. Tekad yang membaja, in syaallah. Road to Makkah, ONE DAY. Jakarta-Jeddah. Bismillahirrahmanirrahim.

Menjadi seorang muslim, melakukan perjalanan ke Luar Negeri, menjadi hal yang sangat wajar. Juga wajib. Ingat rukun Islam. Kita berhaji ke tanah suci yang jaraknya sangat jaaaaaauuuuhhhhhh. Meski jauh, jarak tidaklah menghapuskan kewajiban itu.

Tapi bagi muslim yang tinggal di Saudi, berhaji itu bukan menjadi perjalanan yang disebut pergi-ke-luar negeri kaleeeee. Baiklah, ini tidak sedang membicarakan Saudi ataupun ibadah haji.

Hari ini tersulut pengin melakukan perjalanan jauh. Di luar Indonesia. Meski sebenarnya belum semua pelosok nusantara terambah. Hanya sedikit bagian negeri ini yang pernah saya datangi. Luar pulau Jawa, Bali. Selebihnya: Sumatra, Sulawesi, Kalimantan…… BELUM. Lanjutkan membaca


Membakar Neraka [Lagi]

Aku berpindah. Duduk di seberang Hatoyye. Kami duduk berhadapan, di meja yang sama.
“Kita memerlukan bahan bakar. Aku memilih minyak. Itu lebih praktis untuk membakar neraka. Sampai berabu. Sampai neraka itu tidak akan berfungsi lagi.”
“Kalaupun saat yang tiba itu mengharuskan jadi penduduk neraka, kamu tahukan, nerakanya sudah kosong, hanya gunungan abu saja.” Hatoyye menambahkan lagi.
“Kamu yakin Ye, hanya membutuhkan satu tangki minyak saja?” Hatoyye mengangguk mantap. Seperti singa yang ditawari menu kijang bakar.
“Ye, sebenarnya anggaranmu bisa dikecilkan lagi loh.”
“Hah, maasa? Caranya?”
“Tabung melon?”
“Kamu yakin Ben?”
“Banget!” Keyakinanku melebihi apa yang sudah diekspresikan Hatoyye sebelumnya. Saling meyakinkan. Saling mendukung. Dan saling menguatkan, itulah rahasia kelancaran rencana.
“Tabung gas melon itu Ben?”
“Ya iyalah. Mana lagi!”

“Apakah kita perlu ke pertamina?”
“Ke pertamini saja. Kita minta tabung yang oplosan. Kamu tahu kan, oplosan itulah yang mudah meledak.” Hatoyye menganguk serius. Dan kembali fokus.
“Hhaaahhh, aku tahu Ben. Neraka itu tidak hanya akan menjadi arang isinya. Dindingnyapun akan meledak. Benarkan?”
“Tapi kalau hanya meledakkan satu tabung, itu tidak akan menghasilkan ledakkan yang mampu merobohkan dinding neraka.”

“STOP dulu! aku harus mencatat, minyak tanah coret, diganti gas. Gas tabung melon.” Hatoyye mulai menulis di PDAnya [masih musim!!]

“Ye, siapa yang akan melakukannya?”
“Tentu saja aku yang akan berangkat meledakkan tembok dan seisi neraka itu.Kamu hanya perlu membantu. Sebuah penyelamatan.” Jawaban Hatoyye terdengar sangat berbau super hero.
“Baiklah, aku akan membantumu mematangkan rencana. Semoga kekeliruan bisa terhindar, dan kesalahanpun tidak akan pernah terjadi.” Beginikah rasanya bersemangat dalam berencana? Aku sangat menmikmatinya. Aku benar-benar akan membantu Hatoyye. Akan aku lakukan yang bisa. Kalaupun tidak bisa, pasti akan ad ide lain, bisikan-bisikan pemikiran yang lalu lalang.

Ada hal yang membuat kepalaku dipenuhi kecebong. Sangat menggelitik. Hanay saja tidak tahu mana yang harus digaruk. Beruntung aku segera menemukan penyebab makin bertambahnya kecebong-kecobong itu dalam benak dan pikiranku, di kepala.
“Di mana letak neraka?”
“Untuk apa google memiliki peta! Ben, kamu harus berlapang pikiran juga. Perluas. Perluas. Dan perluaslah jiwa dan pikirmu.” Hatoyye menggerakkan kedua tanganya. Berkali-kali membuka. Berenang di atas permukaan meja.
“Ben, tolong nyalakan komputermu. Kita cari di google earth.”
“Bagaimana kalau koordinat neraka tidak ditemukan dalam google earth?” Sedikit dan lambat-lambat, aku ragu dengan kepintaran google. Walau bagaimanapun google bukanlah malaikat, ataupun manusia super jenius. Dia hanyalah sesuatu. Bukan seseorang. Di sinilah aku mengawali ketidakyakinan atas rencana Hatoyye. Awalnya sangat masuk akal. Perlahan-lahan kerasionalan itu buyar dan buram.
“Ben, kamu belum mencari. Bahkan komputerpun belum dinyalakan. Bagaimana kita akan tahu google bisa menemukan posisi neraka atau tidak.”
“Ayo, kita memulai. Penyelamatan itu harus segera dilakukan.”
Sambil menyalakan komputer, aku bertanya lagi pada Hatoyye, “Ye, bagaimana kamu berangkat ke neraka?”
“Oh iya. Ya ampun,aku benar-benar tidak berpikir sampai ke sana.”
“Ya sudah, kita cari tiket di internet saja,” aku megusulkan demikian. Banyak hal yang bisa kita temukan di internet.Meski tidak semua hal tentu saja.
“Hahh, ya, kita coba juga up date status di Facebook Dicari Tiket ke Neraka. Urgen. Atau di Tweter sekalian.” Kami sibuk di depan computer. Kadang bergantian. Berbagai key word kami coba. Demi peta menuju neraka. Kalaupun tidak sampai ke sana, harus ditemukan wilayah perbatasannya. Mungkin bisa dicari tiket sambungannya.
Kami terus mencoba untuk menemukan. Dan terus dilanjutkan.


%d blogger menyukai ini: